CEO OLX Indonesia Bicara Soal Tren E-Commerce

Oleh Amalia Aininnur, 6 years ago
Daniel Tumiwa, CEO OLX Indonesia, sudah malang melintang di banyak perusahaan, mulai dari radio, televisi, BUMN, hingga e-commerce. Lelaki yang pernah bercita-cita menjadi anggota PPB ini mengakui salah satu kunci untuk mencapai kesuksesan adalah dengan membangun link dan jejaring. Dia juga adalah salah satu pendiri Asosiasi E-Commerce IndonesiaSimak penuturan Daniel Tumiwa kepada Qerja tentang industri e-commerce di Indonesia, dan juga tentang kariernya.

E-commerce adalah sektor yang sedang berkembang di Indonesia. Apa trennya saat ini?

Tren saat ini, orang-orang yang sudah pernah mencoba belanja online akan malas untuk belanja tradisional. Karena mereka sudah menikmati kemudahan dan kenyamanannya. Kalau dilihat sekarang, penjualan retail offline cukup sepi tapi penjualan online luar biasa meningkat.

Bagaimana cara mengasah diri untuk sensitif dengan tren terbaru?

Banyak bergaul. Prinsipnya sama dengan pacaran, banyak pacar banyak belajar, hahaha… Saya belajar bahwa yang menentukan masa depanmu adalah 7 orang terdekat kamu. Tujuh orang ini bisa fleksibel, datang dan pergi, tapi mereka akan menentukan arah kamu. Kalau ditanya bagaimana cara jadi sensitif ya bergaul dengan banyak orang yang sudah berpengalaman walaupun umurnya jauh lebih tua.

Ada nasihat untuk pendatang baru di industri ini?

Kalau berbicara e-commerce sebagai pendatang baru sudah telat. Seriously, you are late. Kalau memang mau masuk boleh, idenya harus sangat unik, fundingnya harus sangat besar dan harus only mobile. Karena saat ini penggunanya lebih banyak yang mobile, jadi trendnya apps only. Makin tinggi idenya menyelesaikan masalah, makin besar kesempatannya. Jadi kalau mau membuat startup harus bisa memberikan solusi terhadap masalah.

Sebagai Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia, menurut Anda apa yang bisa ditingkatkan di sektor e-Commerce dari segi kerja sama antara pemerintah dan para pemain industri?

Di luar semua jawaban yang klise dan bisa dikerjakan pemerintah, yang dibutuhkan sekarang adalah edukasi besar-besaran pada konsumen. Menurut saya pelaku e-commerce sudah cukup baik, hanya konsumennya saja yang belum terlalu paham. Ada banyak ketidaksamaan persepsi antara masyarakat. Kalau masyarakat Indonesia bisa diedukasi mengenai internet dan e-commerce, saya rasa sektor e-commerce ini akan melejit.

Perjalanan karier Anda tersebar di banyak industri. Apa saja pertimbangan Anda sebelum berpindah karier dan industri?

Tidak sengaja sih. Rata-rata saya pindah karena ada yang menawarkan untuk bekerja di perusahaan itu. Dulu saya sempat kerja di multiply.com, setelah resign saya sebenarnya ingin bekerja di BCA karena memang pemilik BCA adalah teman baik saya sendiri. Tapi kemudian tidak sengaja saya bertemu dengan Pak Emirsyah Satar di sebuah restoran, kemudian ngobrol panjang dan setelah itu dia menawarkan saya untuk bekerja di Garuda Indonesia.

Kenapa tidak terus berkarier di satu industri saja?

Sebenarnya yang saya ikuti bukan industrinya, tapi tren teknologinya yang harus diperhatikan. Saat saya pilih radio, radio saat itu sangat ‘in’ dan fleksibel. Kemudian teknologi baru yang muncul adalah, satelit TV. Saat itu RCTI masuk dengan decoder, satelit, dan parabola. Saya tertarik dengan teknologi satelit parabola ini. Pada saat saya masuk di MTV juga saya belajar bagaimana konten dikemas dan disiarkan dengan sistem satu feed ke seluruh Asia. Ketika saya di MTV munculah internet, dan saya sangat terpesona dengan internet.

Apakah Anda percaya dengan passion?

Pastinya. Passion saya berubah-ubah tergantung jamannya, tapi harus ada karena kita harus memiliki pegangan yang mampu membuat kita bekerja tanpa lelah. Empat tahun terakhir ini saya selain sibuk di Garuda, Multiply dan OLX, yang membuat saya sibuk selain pekerjaan utama adalah mendirikan asosiasi e-commerce.

Passion saya sangat dituangkan disana, dan itu berat sekali. Passion itu terasa sekali saya merasa bahwa "nggak apa-apa nggak dibayar, yang penting ini harus jadi”. Dan memang beberapa bulan yang lalu kami buat Indonesian E-Commerce Summit, bahkan e-commerce sendiri bisa masuk ke agenda pemerintah, dan sudah cukup kuat asosiasinya. Jadi saya mundur dari ketua dan menyerahkan ke penerusnya.

Saat memulai karier, apa yang menjadi pertimbangan Anda dalam memilih sebuah pekerjaan?

Kalau gaji saya percaya bahwa uang akan mengikuti. Jadi untuk pilihan, saya biasanya masuk ke zona dimana saya tertarik. Menurut saya, planning untuk kerja cukup 3 tahun. 3 tahun adalah siklus yang cukup untuk menentukan untuk stay atau move on. Saat itu saya bisa tahu apakah usaha yang saya berikan dan yang saya dapatkan seimbang atau tidak.

Kualitas atau kebiasaan apakah yang membawa Anda berada di posisi Anda saat ini?

Leading by inspiration and getting the best out of everyone. Caranya adalah dengan memberikan pengalaman, keahlian, dan inspirasi ke orang-orang karena saya tidak mungkin kerja sendiri. 

Apa yang menjadi titik balik Anda? Adakah kesalahan terbesar atau pelajaran terbesar yang pernah Anda alami?

Saya pernah buat startup dan bangkrut. Di umur segitu membuat bisnis memang agak naif. Pada kasus saya, yang tidak diperhitungkan adalah kebutuhan akan full time CEO dan lawyer dari awal yang sangat-sangat kuat. Saat itu sebagai startup kami masih naif, kami percaya bahwa ada kontrak dan tidak mungkin mereka melanggar. Ketika ada masalah internal, investor membatalkan kontrak. Kalau sudah begitu meskipun kita mau tuntut mereka pasti akan butuh dana yang besar. Di startup itu tidak bisa ukuran tanggung, kalau kecil sekalian tidak apa-apa, tapi kalau mau berkembang, dananya tidak bisa setengah-setengah. Dan memang dari awal kami tidak mendapat bantuan dari professional.

Apa ada buku/film/game/aplikasi yang ingin Anda rekomendasikan?


Selanjutnya

Berlangganan Artikel Kami

Dapatkan tips karir terbaru dengan berlangganan artikel kami



Read This Next



Tweets
Ikuti Kami